Teraman & Terbaik Di Indonesia

Author: Stephen Rivera (page 2 of 6)

Pasar Perbatasan RI dan Timor Leste, sebagai Ajang Temu Kangen Sesama Suku Timor Dawan

Pasar ialah tempat berjalannya roda ekonomi satu bangsa. Kerja sama bilateral Pemerintahan RI dan Timor Leste, terutamanya di wilayah tepian desa halaman saya jadi sebagai gelaran bersilahturahmi antar sama-sama suku Timor Dawan yang sudah pisah semenjak tahun 1999. [/H3]

Secara ras, budaya, agama dan bahasa, warga Timor Barat yaitu, Kabupaten Timor-Tengah Utara dan kabupaten Belu tetap sama dengan rakyat Timor Leste. Pasti kecocokan ini jadi cikal akan ada kerja sama bilateral di antara Pemerintahan RI, terutamanya Kabupaten Timor-Tengah Utara (TTU) dengan Pemerintahan Timor Leste, terutamanya Oekusi.

Kerja sama dengan yang dibuat di antara ke-2 negara ialah buka pasar bebas di wilayah tepian. Kerja sama ini benar-benar memberikan keuntungan ke-2 negara. Karena kecuali kepuasan materi, ada kepuasan batin. Di mana, pasar jadi sebagai media,fasilitas tatap muka sama-sama keluarga yang sudah pisah dengan Pemerintahan RI semenjak 1999.

Tiap hari jumat dalam seminggu, Pemerintahan Kabupaten Timor-Tengah Utara (TTU) buka pasar bebas di wilayah tepian, terutamanya di dusun Napan sebagai gerbang ke arah Pintu masuk Negara Timor Leste. Rakyat ke-2 negara diberi kebebasan untuk sama-sama berkunjung, selama tidak melewati batasan garis yang sudah dipastikan oleh ke-2 negara.

Hari Jumat dilihat sebagai hari karena untuk masyarak tepian RI dan Timor Leste. Karena tiap hari Jumat, keluarga yang sudah lama pisah, sama-sama melepaskan rindu di tempat pasar.

Peranan pasar bukan hanya sebagai tempat berputar-putarnya roda ekonomi ke-2 negara. Tetapi, pasar jadi sebagai sarana tatap muka di antara sama-sama suku Timor Dawan yang sudah lama pisah. Sepanjang panca indara mata melihat, ada duka cita, kebahagiaan, keceriaan yang terpancar dari beberapa wajah. Atoin Meto ( Panggilan untuk orang Timor Dawan yang tempati tanah kering).

Pasar sebagai kenangan sama-sama suku Timor Dawan. Kenangan sama-sama suku Timor Dawan melahirkan rasa kemanusiaan yang melebihi metafisika waktu dan ruangan yang akan terbuka buat umum.

Warga suka, berbahagia dengan terbukanya sekat-sekat sosial antar ke-2 negara. Instrumen-instrumen negera terbuka lebar untuk nilai-nilai kemanusiaan di wilayah tepian RI dan Timor Leste.

Media Sosial Menjadi Tempat untuk Mendapat Perhatian

Bagaimanakah cara beberapa orang demikian gampang memperoleh perhatian dari beberapa orang sekelilingnya?, atau beberapa orang paling dekat?, atau dari warga banyak?. Penulis ingin memberikan penglihatannya, dan untuk lengkapinya dipersilakan ke anda untuk menambahnya walaupun cuman dalam pikiran saja.

Di sini kita tidak melihat dari derajat, sosialita, fisik atau agama, tetapi menyaksikan dari apa yang ada seorang saat ini.

Kita ialah manusia yang perlu tergabung pada suatu barisan etnik, satu suku atau kelompok yang anggotanya mengenali diri dengan sesamanya, atau barisan yang tergabung berdasar garis turunan yang serupa.

Selanjutnya kita tergabung kembali dengan warga yang yang lain berlainan budaya, sama-sama toleransi selanjutnya kita harus terlilit dalam sebuah warga nasional. Pada suatu warga, kita akan alami/jadi orang yang terkadang sendiri, terkucilkan, terasing, cuman dikenali, cuman dijumpai saja dan ada yang populer.

Sebagai proses, kita sebagai anggota warga adalah produk dari peraturan pemerintahan yang di menyengaja, supaya kita jadi aman, nyaman dan jadi sejahtera dalam bermasyarakat dan bernegara.

Mendapatkan perhatian dari banyak orang itu hanya sisi kecil dari kehidupan, tetapi bila dari perhatian itu kita mendapatkan pendapatan yang banyak, karena itu dia jadi sisi paling besar di kehidupan kita, seperti public figur.

Banyak pula beberapa orang tidak merencanakan jadi fokus perhatian selanjutnya dia jadi seorang yang populer. Umumnya karena tidak kesengajaan, karena orang yang lain menunjukkan photo/videonya ke sosial media atau karena dirinya yang menunjukkan videonya.

Videonya jadi selingan untuk seseorang, membuat orang ketawa suka dan mendapatkan simpati dari warga banyak. Sosial media saat ini bukanlah hal yang mahal, dan tidak cuma untuk barisan yang mempunyai strata sosial yang tinggi. Dia menjadi sisi keperluan semua manusia tanpa batasan umur.

Apa saja video yang trending umumnya memperlihatkan selingan semata-mata. Mereka memperlihatkan kepolosan/kelucuan/keceriaan yang bisa menarik orang untuk melihat videonya yang pada akhirnya dia jadi fokus perhatian.

Kepolosan/kelucuan atau keceriaan yang tidak disengaja atau disengaja ini akan sukses jikamana jumlahnya orang sudah menyaksikan videonya. Video yang trending ini menggerogoti semua susunan warga. Semua ingin menyaksikan, selanjutnya menyebar beberapa orang yang ingin populer dan banyak kepopuleran.

Ayo, Menulis dari Pekarangan

Patut saja pikirku, banyak rekanan Kompasianer pemula berasa kurang percaya diri. Baca judul-judul artikel yang wah di barisan AU dan Paling populer membuat mereka keder. Semangat menulis langsung luntur. Jari langsung layu, tidak dapat menekan papankunci gajet.

Manusiawi, bisalah dimaklumi. Kembali juga Admin K nampaknya benar-benar suka pada artikel mode wah begituan. Kawan-kawan yang menyukai pikirkan desas-desus mikro, remeh-temeh, kemungkinan lalu memikir, “Tidak ada tempat untuk penulis recehan di Kompasiana.” Jadilah mereka “balon kempes.”

Empati, itu yang ingin kubagikan pada rekan-rekan Kompasianer pemula. Tujuanku, penulis pemula sebagai Kompasianer pemula juga. Bukan penulis luar biasa yang baru tampil di K, lalu akui pemula.

Ini, Rekan-Rekan Pemula. Menulis itu tidak harus mengenai beberapa hal besar. Sama seperti yang umumnya tampil di kolom AU dan Paling populer itu.

Tidak, menulis itu mengenai soal-soal kecil. Masalah sehari-harinya dan masalah lingkungan rumahan yang paling mikro. Memang tidak wah, tapi juga bisa jadi wow. Seandainya dianggit dengan menarik, dengan pemikiran ciri khas, tidak untuk menjelaskan kenthir.

Mulai dengan ambil pekarangan rumah sebagai tempat gagasan. Dengan sedikit memikir inovatif, jika bukan kenthir, akan selekasnya terlihat benih-benih gagasan berkecambah di situ.

Nah, tinggal ambil satu benih gagasan tersebut lantas menumbuhkan jadi sebuah text tulisan. Dengan demikian, jadilah sebuah tulisan mikro yang unik. Masalah faedahnya, kata Daeng Khrisna, tidak perlu dipikir, berikan saja pada pembaca.

Saya berikan contoh, ya. Saya sering berkeliaran di pekarangan rumah Poltak, saudara kembarku. Nah, di situ saya mendapati banyak gagasan. Seolah pekarangan Poltak itu tempat pesemaian ide. Mengagumkan. Itu semua gagasan yang siap dibuat jadi text.

Demikianlah. Saya menyaksikan serumpun pohon pisang di pekarangan Poltak. Sesudah menyelisik asal mula dan pendayagunaan pisang itu, karena itu lahirlah tiga tulisanku mengenai mukjizat serumpun pisang. Tiga tulisan, Teman-Teman. Walau sebenarnya ini cuman masalah serumpun pisang. Pikir bila ada dua tiga rumpun pisang.

Lalu ada satu artikel paralelisme tikus celurut dengan koruptor, sama dungu. Gagasannya dari 6 ekor celurut yang masuk jebakan yang terpasang Poltak di pekarangan. Sama dengan tikus, koruptor tidak belajar pada perintisnya. Gagasan sahaja.

Kegiatan Mahasiswa KKN UPI dalam Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19 di Kampung Tangguh Nusantara

Kampus Pengajaran Indonesia (UPI) Bandung sekarang ini sedang mengadakan program Kuliah Kerja Riil (KKN) Tematik Penjagaan dan Pengendalian Imbas Covid-19. Aktivitas KKN Tematik UPI ini diadakan secara daring dan luring di periode wabah oleh beberapa mahasiswa UPI pada tempat tinggal setiap mahasiswa secara pribadi dan barisan yang menyebar di sejumlah propinsi.

Kuliah Kerja Riil (KKN) adalah program dedikasi ke warga di mana ini adalah isi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kuliah kerja riil kesempatan ini tentu saja berlainan dengan Kkn beberapa tahun awalnya, di mana KKN tahun ini mahasiswa hadapi dengan Wabah Global yang menyebabkan semua aktivitas harus dilaksanakan lewat daring.

Kecuali dari program perkuliahan, aktivitas ini mempunyai tujuan untuk memberikan dukungan dan memperkuat program penjagaan dan pengendalian imbas Covid-19 yang dilaksanakan oleh pemerintahan pusat dan wilayah. Disamping itu , UPI ingin menolong warga lakukan alih bentuk sudut pandang dan alih bentuk psikis dalam hadapi periode wabah yang tidak terpikirkan awalnya dengan. Smembuat warga yang inovatif, krisis, komunikatif, dan kolaboratif dalam situasi apa saja.

Tetapi ada banyak Program KKN UPI yang di pasarkan ke Mahasiswa yang memiliki sifat program harus terutamanya di Sektor Pengajaran. Namun yang saya mengambil di sini berlainan dari rekan-rekan lainnya, saya ambil aktivitas. KKN Sukarelawan yang sebenarnya ini aktivitas KKN Gelombang Pertama. Dan ada 3000 lebih mahasiswa UPI sekarang ini sedang melakukan. KKN di wilayahnya setiap. Sterhitung dari tanggal 16 November 2020 s/d 30 Desember 2020 an akan mengenai cinta dan restu orangtua.

Dalam aktivitas KKN ini saya masih jalankan program KKN seperti mestinya. Alhamdulillah bermacam program telah saya lakukan semaksimal kemungkinan. Program KKN yang saya lakukan sejauh ini cuman ada banyak dan. Sdi tolong oleh beberapa tokoh warga RW 05 dan kawan-kawan Karang Taruna RW 05.

Kebiasaan Menonton Film Action, Berujung pada Kasus Pencurian Motor

Ramainya perampokan sepeda motor (curanmor) di kota Metropolitan disebabkan karena permasalahan keuangan. Kecuali, permasalahan keuangan, ada satu faktor yang yang nyaris bahkan juga dilalaikan oleh tiap orang yaitu, rutinitas melihat film action. [/H3]

Satu bulan lalu, rekanan kerja saya kehilangan motor di Kota Tua Jakarta. Urutannya lebih kurang semacam ini, adik rekanan saya pinjam motor abangnya untuk nikmati akhir minggu di kota Jakarta, persisnya di kota Tua. Walau sebenarnya, kota Tua belum dibuka, sejak PSBB dari Pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Ternyata magnet kota Tua menggerakkan adik rekanan saya ini untuk ngotot ke Jakarta bersama kekasihnya. Kondisi adam – ayem sampai larut malam, kurang lebih jam 11.30 WIB. Adik rekanan saya ini pulang ke tempat tinggalnya di Rawa Bogor, Jakarta Barat. Anehnya, adik rekanan saya ini tidak bawa motor abangnya. Justru, dia diantarkan oleh Driver Grab.

Adik rekanan saya ini menangis histeris, sekalian mohon maaf ke abangnya. Karena motor abangnya dicuri oleh orang yang tidak dikenali. Rekanan kerja saya minta verifikasi ke adiknya.

Tetapi, adiknya tidak memberi keterangan secara detil dan terang. Rekanan saya berasa kesal dan geram dengan adiknya, tetapi dia tidak dapat melakukan perbuatan apa-apa. Karena dia benar-benar mengasihi adik bungsunya.

Keesokannya, rekanan saya pada tempat kerja minta dana untuk kami semua untuk menolong cari motornya. Ada beberapa rekanan kerja yang merekomendasikan untuk memberikan laporan kasus kehilangan ini pada pihak yang berwajib.

Tetapi, rekanan kerja ini berasa takut. Karena peralatan motornya, berbentuk STNK, SIM, Pajak telah mati. Pada akhirnya, dia tidak berani untuk menyampaikannya pada pihak berwajib. Kelak semakin susah kepentingannya. Jalan terbaik ialah kami menolong rekanan kerja ini untuk cari motornya.

Mendekati dua Minggu, dia mendapati motornya di salah satunya bengkel di wilayah Rawa Bogor juga. Dia berasa suka. Karena motornya telah diketemukan. Permasalahan baru tampil kembali, yaitu rupanya yang mengambil motornya ialah rekanan teman dekatnya.

Pikirkan seorang teman dekat seteganya lakukan hal tersebut? Irit kata, rekanan saya minta verifikasi ke teman dekatnya. Sempat memang terjadi bentrokan antar ke-2 nya. Tetapi, sukurlah, kondisi jadi kembali normal antara mereka.

Memodifikasi Monopoli sebagai Media Pembelajaran yang Menyenangkan di Masa Pandemi

Pantai Balekambang berada di bagian Malang Selatan. Memang tidak disangkal bahwasannya, daya tarik pantai Selatan yang dikenali dengan ombak yang garang, dibaliknya ada keelokan tanpa taranya di penjuru dunia mana saja.

So, pada adegan ini saya mengulik sekilas bagaimana perjalanan berlibur saya di pantai Balekambang, Malang Selatan. Ingat ya, pantai Balekambang, bukan kembang dusun, ya.

Perjalaan saya dari kota Malang ke arah sisi Selatan lebih kurang 3 Jam. Mesin cordoba 3 jam terasanya 30 menit. Karena sejauh perjalanan, mata saya tidak dapat menipu semesta. Alangkah cantiknya saya nikmati bentangan sawah yang cantik dan asri. Antara bentangan sawah dan beberapa pohon kelapa yang membubung tinggi ke angkasa, ada seorang anak manusia yang memadu aksara dalam menggambarkan ketakjubannya pada daya tarik alam Malang Selatan.
[H3] Cantik [/H3]

Kata cantik memperlihatkan info karakter. Alunan musik Jawa yang didengar syahdu dan cantik, menambahkan keceriaan saya pada pagi hari dalam menyelesuri labirin semesta ke arah pantai Balekambang. Saat mataku bertautan kuat dengan bukit-bukit yang mengapit cantiknya pantai Balekambang, hatiku jadi tenang dan tidak resah pikirkan banalitas hidup yang menjemukan. Saya bukan berfilsafat ya. Hanya mengutarakan ketakjuban saya pada keelokan semesta Pantai Balekambang.

Sebentar saya memperhatikan pergolakan adrenalin saya yang sama-sama berkejaran melewati cakrawala Pantai Balekambang. Saya lagi memikat keelokan pantai Balekambang dalam tiap tarikan aksara. Apa lagi, letak pantai yang ada di pegunungan, semakin menambahkan kebahagiaan saya. Berlibur saya benar-benar berarti.

Sumber; Wisatabagus.com;

Namanya pantai Selatan, jauh dari pemukiman rakyat. So, tidak ada kelirunya, kan, jika saat sebelum pergi ke pantai Balekambang, anda telah sediakan semua peralatan yang memberikan dukungan berlibur anda di sana.

Di tepi pantai Balekambang, ada satu bukit yang paling cantik untuk membagi beberapa pencinta photografer, dalam memburu beberapa foto yang cantik. Menariknya, di bukit itu ada Pura. Bagus, kan? Kecuali nikmati pantainya, kita nikmati rekreasi religius. Panorama pantai Balekambang, lebih kurang seperti panorama di Tanah Lot, Bali. Jika anda yang pernah berkunjung Tanah Lot, Bali tentu dapat mendeskripsikannya.

Berbagi Walau Sedikit: Bincang Santai dengan Orang tua Siswa dalam Pendampingan Pembelajaran Daring

Alih bentuk evaluasi secara daring pasti bukan hal yang gampang dan tidak seluruhnya pelaku mempunyai persiapan itu. Hingga memerlukan banyak penyesuaian-penyesuaian baru. Seringkali keadaan ini lah yang munculkan masalah baik dari permasalahan tehnis atau proses evaluasi.

Usaha yang dilaksanakan untuk menolong menangani permasalahan yang terjadi salah satunya dengan lakukan pengiringan belajar secara daring yang disebut sisi wujud dari dedikasi pada warga. Wabah Covid-19 dikerjakan aktivitas dedikasi dengan mengusung topik penjagaan dan pengendalian imbas Covid-19. Adapun program yang dijajakan ialah penjagaan dan pengendalian imbas Covid-19 dalam sektor pengajaran dan ekonomi.

Program pengiringan orangtua murid dikerjakan lewat group WhatsApp dengan sistem share dan dialog berkenaan kesusahan sepanjang mengikuti anak- anak belajar dalam rumah. Saat berunding beberapa jawaban orangtua berkenaan masalah mengikuti anak belajar dalam rumah rerata menjelaskan jika kesusahan dalam pahami materi dan disiplin dalam belajar jadi menurun ‘agak rileks ya’..

“Susah pahami materi buat diterangkan balik ke anak terutamanya matematika”

“Masalah nya terkadang senang gak konsentrasi dalam belajar… walau materi telah diberi bu guru.. jadi belajar nya sama seperti yang rileks begitu kak…”

Disamping itu salah seseorang tua ikut memberi jawaban..

“Alhamdulillah… Anakku selalu semangat dalam belajar terkecuali jika materi nya tidak dapat dipahami..”

Sesudah ketahui masalah yang ditemui, dialog di lanjut kan dengan pertanyaan motivation yang diberi beberapa bunda dalam menangani masalah barusan.

“Harus dikasih pemahaman jika yang diminta bu guru bila tidak ditangani tidak mendapatkan nilai”

“Memberi motivasi jika jika tidak belajar akan ketinggal pelajaran.. gak naik kelas.”

Menyaksikan keaktifan beberapa ibu dalam pengiringan diteruskan, penulis share beberapa panduan untuk mengikuti anak supaya disiplin belajar dalam rumah.

Aktivitas ini memperoleh tanggapan yang positif dari beberapa ibu yang mengikut pengiringan. Ini nampak saat penutupan aktivitas pengiringan dan group WhatsApp disudahi dengan perkataan terima kasih dari beberapa ibu.

“Terima kasih atas panduan nya kak. Insyaallah benar-benar menolong dan berguna dalam soal pjj ini.”

“Hatur nuhun kak.”

“Terima kasih kak Trivani ayam populer di asia.”

Pencapaian Superreceh Selama Pandemi

Dahulu saya punyai buku saku yang kubuat sendiri dari kertas sisa di warung Mamak. Antara buku sisa yang dipasarkan orang ke warung, umumnya ada buku catat yang masih belum terpakai semuanya. Jadi bisa digunakan saat sebelum jadi buntel cabai atau belanjaan lain yang berada di beberapa negara ya.

Semenjak SMP, kerap orang menduga saya tidak mampu membeli buku, karena sering gunakan buku sisa. Walau sebenarnya saya berasa sayang menyaksikan kertas/buku yang kosong disia-siakan. Apa lagi jika tahu untuk bikin buku, diperlukan banyak pohon dan air.

Apa lagi saya tipikal orang yang jarang-jarang make up, tidak dapat ganti-ganti sepatu/tas, jarang-jarang membeli pakaian. Dahlah, gantenggnya memberikan dukungan sekali untuk dipandang miskin.

Jadi sesudah cukup dewasa, malu kan dicela gembel. Karena itu kertas-kertas tersisa itu kukreasikan demikian rupa jadi buku kecil yang muat bila dimasukkan pada saku jaket. Covernya elok, photo close-up pemiliknya yang diciptakan di kertas glossy. Tentu saja difilter dahulu!

Saat menyaksikan buku saku itu, orang akan bergumam, “inovatif!” bukannya mengasihani sekalian ngomong “kismin,” walau dalam hati.

Simak juga: Untung Rugi Menulis Buku Harian

Peranan buku saku itu untuk menulis gagasan yang mendadak tampil, sedang saya tidak pada saat yang pas untuk menulis. Biasanya diperjalanan, di kantor, atau beberapa tempat yang lain tidak mungkin untuk menuntaskan tulisan.

Nanti, gagasan pada buku saku akan kukembangkan saat keadaan dan keadaannya memberikan dukungan. Berapakah % dari catatan itu yang usai jadi tulisan utuh? Terbanyak 25 %, alias seperempatnya. Ngenes.

Percuma mengirit air dan pohon, percuma mengubah photo. Hasilnya tidak sampai setengah.

Selanjutnya bermunculanlah penyimpanan awan seperti Google Drive, Evernote, dan lain-lain. Awalnya saya sering simpan file melalui surel, taruh di folder dan draft. Saat ini ada juga Google Keep dan lain-lain yang semakin komplet tetapi sederhana.

Automatis saya tidak perlu kembali membuat buku saku. Kembali juga warungnya juga tidak ada, aku juga tidak lagi pegawai kantor yang punyai kertas-kertas salah bikin. Suamiku malas membawa catatan saat khutbah, nikmat gunakan tablet.

Di Ujung Jembatan, Kau Mengenang Kehidupan Seminari

Sekarang ini kau ingin keluar dari kehidupan membiara, karena telah tidak nyaman dengan ritmenya. Tetapi besok dan lusa, saat kau memandang senja di ujung jembatan, kau akan merengkuh irama-irama kenangan yang sudah keluar dari kehidupanmu. Teman, begitu berharganya kau dididik dalam Seminari. Tidak seperti saya yang rindukan status kamu, bila andaikan kita berganti status. [/H3]

Biasanya, kita menyaksikan apa yang dilaksanakan oleh seseorang bagus sekali, bagus dan lebih bagus dari kehidupan kita. Tetapi, belum pasti jadi sama, jika kita mempunyai peluang untuk menjaringninya.

Kehidupan seorang Seminaris (Frater) dalam Biara benar-benar dimanja dalam semua suatu hal.sebuah hal. Sarana peningkatan kreasi ada. Lantas, apa sebagai rintangan paling berat untuk beberapa Frater jalani kesehariannya? Pasti, permasalahan ini akan bersumber pada terasa nyaman.

Terasa nyaman ialah keperluan tiap orang yang tidak dapat diganti dengan materi. Memang, hidup tanpa materi akan mengundang banyak masalah hidup. Tetapi, lebih jauhnya, ada satu perihal yang masih belum dirasa oleh tiap orang, yaitu rasa sukur.

Ada orang yang kelimpahan materi, tetapi selalu berasa kekurangan kasih, perhatian dan saat yang bernilai bersama beberapa orang tersayang. Tetapi, ada pula yang kekurangan materi, tetapi selalu dilimpahi keluarga yang bagus, kasih dan perhatian dari beberapa orang paling dekatnya. Berikut seni kehidupan yang masih belum seluruh orang nikmati ritmenya.

Irama kehidupan seorang seminaris (Frater) lebih kurang seperti fotoan di atas. Hidup berasa berat jika tiap hari cuman didampingi dengan pembekalan hidup, buku bacaan, berdoa, menyanyi, berunding, share, dan lain-lain. Ada yang jalani kehidupan membiara (Frater), seperti; pohon beringin. Ke mana angin bertiup, dia juga mengikut. Di mana terdapat orang ketawa dan tersenyum, dia turut ketawa dan tersenyum.

Ada juga, yang hidupnya datar, biasa saja. Di antara hidup atau mati. Tanpa seorang juga yang mengetahui. Kecuali Si Pengada.

Seiring waktu berjalan, ada kangen untuk mengulang kebersama-samaan dalam Seminari. Apa lagi, tiap sore di ujung jembatan ada senja di tengah-tengah perairan. Lantas, tebersitlah kenangan nikmati ritme-ritme kehidupan Seminari.

Uniknya Rezeki Setiap Penulis

Rejeki tidak cuma berbentuk materi. Semakin lebih dibanding itu ialah kesehatan, rekanan yang menembusi sekat-sekat sosial, dan hidup seorang penulis jadi berarti. Entahlah berarti untuk diri kita, orang-tua, lingkungan dan negara.

Okelah saya tidak paham, apa di adegan aksara ini, tulisan saya terhitung sharing, share atau sebatas share motivasi untuk rekanan penulis di penjuru mana saja.

Saya bukan penulis sekaliber Pramoedya Ananta Toer, Andrea Hirata, Khrisna Pabichara, lalu penulis Bestseller Internasional Yuval Noah Harari, Paulo Coelho, Jostein Gaarder, Filsuf Hannah Arendt, Jurgen Habermas, dan penulis-penulis saluran Feminis di penjuru dunia mana saja. Tetapi saya ialah seorang pencinta aksara yang jauh dari kesempurnaan dalam membenahi topik, frame dan pilihan kata. Seperti yang diberikan oleh Pak Khrisna Pabichara.

Rejeki seorang penulis ialah saat hasil kreasinya memberi imbas positif dan faedah untuk beberapa pembaca. Imbas positif dan faedah yang didapat oleh pembaca tidak didiamkan cuman berdengung dalam dirinya.

Tetapi, pembaca akan sendirinya memberitahu apa yang dibacanya ke rekanan, teman dekat, kenalan, posting di media sosialnya. Terbentuklah pasar untuk penulis sendiri. Pemasaran juga tersambungsi di antara penulis dan pembaca. Rejeki berbentuk beberapa pundi uang juga mengucur ke rekening penulis.

Perlahan tetapi tentu, rejeki penulis selalu memenuhi keperluannya tiap hari. Ya, minimum makan minum dan bermacam cemilan. Sukur-sukur, rejeki yang semakin bertambah, bersamaan dengan pasar pasar yang telah tersambungsi dengan penulis.

Apa yang saya ucapkan di atas ialah pergi dari kenyataan saya dalam nikmati secuil rejeki hasil dari kreasi novel saya, yaitu “Terjerat dan Superego.” Ke-2 novel saya tidak dan – merta memberi rejeki yang melimpah, tetapi ada selalu rejeki tiap hari. Puji Tuhan.

Disamping itu, rekanan saya menembusi sekat-sekat sosial. Ya, semuanya saya peroleh lewat ke-2 kreasi novel saya.

Menarik dan benar-benar inspiratif apa yang dicatat oleh Pak Khrisna Pabichara, Hari Pertama 2021, Tidak boleh Malu Jadi Penulis. Adrenalin saya menggelora, disaat membaca artikel yang di atas. Penjelasan yang canggih dan penuh irama inspiratif dalam tiap aksara. Terima kasih Pak Khrisna yang selalu berikan motivasi dan memberikan inspirasi untuk selalu menulis.

Teman sebagai penutup saya mencuplik salah satunya qoutes dari penulis favorite saya, Pramoedya Ananta Toer,”Kalian bisa maju dalam pelajaran, kemungkinan capai jejeran gelar kesarjanaan apa, tetapi tanpa menyukai Sastra, kalian tinggal cuman hewan yang pintar.”

error: Content is protected !!