Patut saja pikirku, banyak rekanan Kompasianer pemula berasa kurang percaya diri. Baca judul-judul artikel yang wah di barisan AU dan Paling populer membuat mereka keder. Semangat menulis langsung luntur. Jari langsung layu, tidak dapat menekan papankunci gajet.

Manusiawi, bisalah dimaklumi. Kembali juga Admin K nampaknya benar-benar suka pada artikel mode wah begituan. Kawan-kawan yang menyukai pikirkan desas-desus mikro, remeh-temeh, kemungkinan lalu memikir, “Tidak ada tempat untuk penulis recehan di Kompasiana.” Jadilah mereka “balon kempes.”

Empati, itu yang ingin kubagikan pada rekan-rekan Kompasianer pemula. Tujuanku, penulis pemula sebagai Kompasianer pemula juga. Bukan penulis luar biasa yang baru tampil di K, lalu akui pemula.

Ini, Rekan-Rekan Pemula. Menulis itu tidak harus mengenai beberapa hal besar. Sama seperti yang umumnya tampil di kolom AU dan Paling populer itu.

Tidak, menulis itu mengenai soal-soal kecil. Masalah sehari-harinya dan masalah lingkungan rumahan yang paling mikro. Memang tidak wah, tapi juga bisa jadi wow. Seandainya dianggit dengan menarik, dengan pemikiran ciri khas, tidak untuk menjelaskan kenthir.

Mulai dengan ambil pekarangan rumah sebagai tempat gagasan. Dengan sedikit memikir inovatif, jika bukan kenthir, akan selekasnya terlihat benih-benih gagasan berkecambah di situ.

Nah, tinggal ambil satu benih gagasan tersebut lantas menumbuhkan jadi sebuah text tulisan. Dengan demikian, jadilah sebuah tulisan mikro yang unik. Masalah faedahnya, kata Daeng Khrisna, tidak perlu dipikir, berikan saja pada pembaca.

Saya berikan contoh, ya. Saya sering berkeliaran di pekarangan rumah Poltak, saudara kembarku. Nah, di situ saya mendapati banyak gagasan. Seolah pekarangan Poltak itu tempat pesemaian ide. Mengagumkan. Itu semua gagasan yang siap dibuat jadi text.

Demikianlah. Saya menyaksikan serumpun pohon pisang di pekarangan Poltak. Sesudah menyelisik asal mula dan pendayagunaan pisang itu, karena itu lahirlah tiga tulisanku mengenai mukjizat serumpun pisang. Tiga tulisan, Teman-Teman. Walau sebenarnya ini cuman masalah serumpun pisang. Pikir bila ada dua tiga rumpun pisang.

Lalu ada satu artikel paralelisme tikus celurut dengan koruptor, sama dungu. Gagasannya dari 6 ekor celurut yang masuk jebakan yang terpasang Poltak di pekarangan. Sama dengan tikus, koruptor tidak belajar pada perintisnya. Gagasan sahaja.