Okelah tidak ada yang larang kamu untuk menjelajahi internet. Toh, selanjutnya, kita akan mengetahui jika, kita cuman hanya beberapa orang kesepian, ketika posting kita tidak ada yang menyikapi dengan like dan tanggapan.

Walau ketertarikan baca warga kita 1:10, tetapi tidak apalah daripada stigmatisasi warga Internasional lagi menempel di kehidupan kita, lebih bagus kita menggantinya mulai dengan membaca buku.

Ya, minimum satu hari kita membaca satu-dua halaman. Cukup! Dibanding kita lagi kepoin status WA, atau Facebook seseorang, lalu mengundang irama-irama kedengkian di kehidupan kita. Kan kita sendiri yang nanti menyesal, jika irama-irama kebun binatang di Taman Safari Indonesia mulai bersebaran di dunia maya.

Iiiiiiiiih, memalukan, jika umur muda kita cuman berputar-putar di dunia maya. Memang, rintangan zaman 21 tidak muda untuk angkatan milenial, tetapi miliki sikap tegas jika perjalanan hidup kita masih panjang dibanding angkatan perintis kita.

Pemilik pentas hari esok bangsa ialah kita angkatan milenial. Tidak nyaman kan, jika cap atau stigma warga Internasional lagi menghantui perjalanan kita di depan.

Dikutip dari Edukasi.Kompas.com “Programme for Internasional Student Assesment (PISA). Untuk nilai kapabilitas membaca, Indonesia ada dalam rangking 72 dari 77 negara.

Baca di sini: Nilai Pisa Murid Indonesia Rendah, Nadiem Persiapkan 5 Taktik Ini

Ya, itu kenyataan ketertarikan baca kita di mata Internasional.

Nah, baca 3 rahasia, kenapa membaca buku itu wajib untuk angkatan milenial?
[H4] Kaya Info [/H4]

Membaca ialah sisi dari penelitian. Penelitian akan menolong kita untuk kumpulkan banyak info. Info tepat dan dipercayai mempermudah kita untuk terjual ke salah satunya sektor pekerjaan tertentu.

Membaca bisa membuat bertambah khazanah pengetahuan kita mengenai dunia. Perlahan, tetapi tentu, kita akan mengganti cap atau stigma itu, jika kita ingin mengganti pola pikir untuk mulai membaca. Buat jadi budaya membaca buku sebagai identitas kita sebagai angkatan milenial yang makin terbuka dengan dunia.

Sampai kapan kita akan ada di rangking 72 dari 77 negara yang di atas?. Tidak ada kata telat dalam kamus kehidupan kita untuk mengganti stigmatisasi itu. Karena itu, mulai berteman dengan budaya membaca.
[H4] Pemikiran lebih Fresh [/H4]